Saham atau Reksadana ya? Yuk, Kenali Resiko-Resikonya

Ada banyak macam investasi saat ini, mulai dari investasi saham sampai dengan reksadana. Biasanya orang-orang memilih jenis investasi sesuai dengan pengetahuan dan kebutuhannya masing-masing. Misal ada yang memilih untuk melakukan cara trading saham, ada juga yang menggunakan manajer investasi reksadana sesuai keinginan.

Kedua instrumen investasi ini sama-sama baik. Tidak ada yang lebih baik dari satu dan yang lainnya, namun dalam tiap instrumen pasti ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Meskipun sama-sama menjadi instrumen investasi, kedua instrumen ini memiliki juga memiliki perbedaan.

Berikut perbedaan saham dan reksadana yang perlu Smart People ketahui.

Saham vs Reksadana

Smart People, untuk membedakan Saham dan Reksadana cukup mudah yakni melalui definisinya. Kedua instrumen investasi ini memiliki perbedaan definisi yang cukup mencolok. Karena definisi saham adalah bukti kepemilikan suatu perusahaan atau badan usaha yang berbentuk surat berharga.

Sedangkan reksadana merupakan wadah bagi penanam modal untuk menghimpun dana. Lalu, dana yang telah dihimpun akan diatur oleh manajer investasi untuk diinvestasikan melalui beberapa instrumen seperti deposito, saham, dan obligasi.

Minimum Investasi

Minimum investasi pada saham dan reksa dana juga berbeda. Pada saham besaran minimum investasinya yakni Rp. 500.000 – Rp. 5 juta. Namun, hal ini juga ditentukan oleh kebijakan sekuritas yang diterapkan. Sementara, pada reksadana ada yang bisa dimulai dari Rp. 10.000 – Rp. 5 juta.

Aspek Perpajakan

Perbedaan saham dan reksadana selanjutnya yaitu pada aspek perpajakannya yang dapat Smart People cari tahu penjelasannya di bawah ini.

1)          Perpajakan Saham

Seorang investor memiliki konsekuensi untuk membayar pajak saat memperoleh pendapatan dari penjualan saham. Dengan kata lain investor memperoleh dividen. Perlu diketahui dan diingat bahwa hanya beberapa transaksi saja yang dikenakan pajak di Bursa Efek Indonesia.

Contohnya transaksi dari saham yang sudah terjual dan pendapatan dalam bentuk dividen yang diperoleh investor. Jenis pajak yang diterapkan yakni pajak pendapatan atau penghasilan (PPh). Sehingga untuk transaksi pembelian tidak dikenakan pajak.

2)          Perpajakan Reksadana

Berbeda dengan pajak saham, reksadana merupakan satu-satunya instrumen investasi yang tidak terkena penerapan pajak atas hasil keuntungan yang diperoleh. Hal tersebut diperkuat melalui Pasal 4 Ayat 3 huruf I UU PPh. Oleh karena itu, Reksadana hanya memiliki kewajiban biaya manajer investasi, broker efek, bank kustodian, pembelian dan pelunasan aset.

Meski pada dasarnya tetap ada pajak yang dibayarkan, namun manajer investasi sudah menggambungkannya melalui pengelolaan portofolio reksadana. Sehingga melalui hal ini secara tidak langsung investor tetap melakukan pembayaran pajak.

Progres Pergerakan Investasi

1)          Progres Pergerakan Saham

Sebagai investor Smart People harus mengetahui dua metode penting dalam instrumen saham. Metode tersebut adalah analisa fundamental dan analisa teknikal. Sehingga Smart People mampu memperkirakan tren harga saham serta pergerakan volumenya.

2)          Progres Pergerakan Reksadana

Pada progres pergerakan reksadana Smart People sebagai investor tidak harus memahami apa itu analisa fundamental dan analisa teknikal. Karena investasinya sudah dipercayakan dan dikelola oleh manajer investasi. Melalui manajer investasi tersebut dana yang sudah terhimpun akan dialokasikan pada berbagai instrumen.

Risiko Investasi Saham dan Reksadana

Dua instrumen investasi ini memiliki risiko yang kurang lebih sama. Agar Smart People dapat mengetahui apa saja risikonya, simak penjelasan di bawah ini.

1. Systematic Risk

Risiko dari investasi saham dan reksa dana dapat dipengaruhi dan didiversikan melalui perubahan ekonomi, sosial, dan politik. Contohnya risiko inflasi, risiko pasar, risiko mata uang, dan risiko suku bunga. Risiko ini tidak dapat dihindari oleh investor.

1)    Risiko Inflasi : Berdampak pada investasi khususnya pada obligasi. Saat inflasi naik present value pada bunga obligasi akan mengalami penurunan. Saham juga berisiko memiliki nilai rendah karena dividen yang dibayarkan dapat disesuaikan dengan inflasi.

2)    Risiko Pasar : Dapat berupa tragedi politik nasional serta perubahan ekonomi, baik regional, nasional, dan global

3)    Risiko Mata Uang : Naik turunnya mata uang mempengaruhi imbal hasil investasi

4)    Risiko Suku Bunga : Sama seperti mata uang suku bunga juga mengalami naik turun karena jumlah hutang yang kian meningkat

2. Non Systematic Risk

Resiko selanjutnya adalah risiko non sistematik. Hal ini terjadi bukan karena faktor politik atau faktor pasar, namun karena perusahaan tidak mampu dipimpin oleh manajemen yang ada. Selain itu tenaga kerja yang mogok, dan penurunan penjualan perusahaan juga dapat mempengaruhi investasi.

Berbeda dengan risiko sistematik, risiko non sistematis dapat dihindari. Investor dapat mengatasi risiko dan menguranginya melalui diversifikasi portofolio. Risiko ini terjadi karena beberapa faktor antara lain, risiko keuangan, risiko bisnis, risiko likuiditas, risiko cedera janji.

Itulah risiko-risiko dari saham dan reksadana yang bisa Smart People ketahui. Namun hal tersebut tidak perlu mematahkan semangat Smart People untuk memulai investasi saham maupun reksadana. Smart People dapat memulainya dengan cara trading saham yang efektif atau mencoba investasi reksadana.

Jika Smart People tertarik untuk memulai investasi. Smart People dapat menggunakan aplikasi investasi dan cara trading saham RHBTRADESMARTID dengan fitur lengkap yang dimiliki sehingga memudahkan untuk melakukan investasi. Download aplikasi RHB Tradesmart ID sekarang di Playstore dan App Store sekarang juga!.

Referensi:

Ngurah Mustakawarman, Anak Agung., I Gusti Bagus Wiksuana., dan Luh Gede Sri Artini. 2016. Jurnal Buletin Studi Ekonomi Vol. 21, No. 2 : “Kinerja Portofolio Saham Undervalued dan Overvalued Pada Indeks LQ45 Di Bursa Efek Indonesia”. media.neliti.com

Hariyanto, Eko., Tiara, Pandansari., Annisa., dan Ilma Hartikasari. 2020. “Pasar Modal dan Kelembagaannya”.digitallibrary.ump.ac.id

Muhammad Irfan Al-Amin. 2022. “Perbedaan Saham dan Reksadana, dari Pengertian hingga Perpajakannya”. katadata.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *